Pelukan ARFAK

25 Oct 2010

img_113724 October 2010

Kampung Testega, Peg. Arfak. Manokwari.

Semakin hari semakin susah bangun tapi semakin seru bertualang Indonesia. Saya dan riri saling membangunkan tapi tidak ada yang mau angkat itu badan keluar dari tempat tidur. Akhirnya dadang datang kekamar, dan berteriak.. ” Arfak time..”, langsung loncat kita berdua.. Hahaha…

Dari pusat Manokwari jalanan sudah teraspal dengan baik, sebelum kita naik lebih tinggi, terakhir kita akan berhenti dahulu diterminal Warmare. Dipenuhi warung sekaligus jadi tempat tinggal. kitapun membeli cemilan,isi bensin, numpang kencing, ajang foto terjadi disini. Lanjut… Sepanjang jalan, kira kanan dipenuhi pohon sawit yang penuh dengan parasit. Setelah 15 menit, badan saya mulai geser kiri kanan berarti sudah tahap berliku ditambah dengan tanjakan tinggi. Udara diluar mulai dingin dan meniup kearah dalam. Brrr… Jaket hitamku mana ya…

img_1111Memang cantik pemandangan pegunungan Arfak, selain masih alami, saya bisa menghirup udara segar tanpa polusi.. Langka ni.. Dijakarta boro-boro bisa nafas, keluar rumah saja sudah macet dijalan. Kapan ya bisa jalan bebas macet kayak dulu? Bermimpilah…..

Semakin menantang menghadapi roda berputar diatas bebatuan. Sempat saya keluar lewat jendela mau tahu khabarnya 2 Petualang ACI, riri dan dadang plus ayah dan Kiri di bak belakang. Walaupun terombang ambing, sirna ekspresi senang dan riang layaknya anak kecil dapat permen. Tidak ada kata bosan, tiap kali mmembaca nama kampung yang susah diingat seperti Duibey, Imbentin, Snaimboy.

img_1083

Selain nama yang unik, tempat tinggal suku Manikom dan hatam ini juga tidak kalah istimewa, yakni Rumah kaki seribu.

Memiliki ciri khas dari banyaknya kayu yang ditanam sebagai pondasi serta dinding kayu dipaku kembali membingkai badan luar rumah. Tentunya sangat hangat berada dalam situ, dan juga bisa ditempati lebih dari 2 kepala keluarga. Sepanjang jalan, sengaja saya buka kaca selebar-lebarnya, membiarkan angin menyentuh mukaku, menangkap kerindangan hutan, dan luar biasa, tidak habis-habisnya dari awal sampai sekarang, masyarakat berteriak sambil angkat tangan.. “Agreso..” atau “Abires..” berarti selamat. Keramahan dan kekeluargaan tampak sangat kuat bagi antar kampung dan pendatang luar.

Akhirnya kita sampai juga di kampung Testega, kabupaten distrik Anggi, yang terkenal akan danau Giji (Lelaki) dan danau Gita (Perempuan). Sayangnya, kita hanya bisa menikmati luasnya danau Giji,sebab selain langitnya mendung, memakan 1 jam lebih melewati gunung untuk bisa capai danau Gita. Tangan Tuhan sedang bekerja. Air tenang dijaga oleh pinggiran danau yang berkelok,seakan-akan danau dinaungi oleh gunung-gunung tinggi. Gunung pun menjadi warna biru oleh diselimuti awan putih. Aura santun yang terpancar dari kampung Testega memberi arti lebih dalam.

Untuk saat ini, diawali perkenalan dengan pasangan danau di Anggi, nantinya saya akan kembali menjadi sahabat danau.

dsc_16021Sweet,

Nadine Chandrawinata


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive