SURSUREY DAY

25 Oct 2010

dsc_1600

24 October 2010,

Peg. ARFAK, Manokwari.

Papua Barat

Setinggi-tingginya orang mendaki, takkan pernah bisa memeluk gunung. Sudah kubayangakan, perjalanan ke pegunungan Arfak akan sangat menegangkan. Untuk sampai ke lelaki sitelaga Giji dan perempuan sitelaga Gita harus melewati ribuan gunung berbentuk ular. Hati-hati dalam ucap serta perilaku, kalau tidak gunung pun akan keluarkan bisanya lewat hujan deras. Dengan menggunakan double 4×4, keadaan selamat dan tepat waktu.

Sebelum mengarah pulang, saya diberikan sambutan hangat oleh pedalaman kampung Testega. keluarga besarMatias Saiba, mengajarkan arti berbagi dalam hidup. Kita datang dengan maksud mencari sehirup kesejukan hati, malah, yang diberikan adalah segudang ketulusan dari kampung terpencil.

Kentang,wortel, daun bawang, ubi,ubi jalar, sawi,pokcay,kol bunga, kita dapatkan cuma-cuma. Tradisi memberi hasil panen sangat kental. Sangat sungkan dan ga enak hati, akhirnya, kita keluarkan apa yang kita bawa, seperti kemasan minuman jahe, obat pusing, permen, kacang, sampai selendang Bali milik Riri kita serahkan. Team papua Barat merasa bagian dari keluarga Sabia. Benar benar, mahkluk Tuhan yang diberkati. Kecantikan Anggrek tanah menggoda layak bunga abadi yang kupuji sepanjang masa.

Langit mulai gelap, bergegas kita naik mobil offroad, laju terombang ambing diatas bebatuan gunung. Rasa keingintahuan muncul kembali, Mengapa ibu itu mengendong erat anak dan babi kecil?

img_1307Biasanya, seorang ibu mengajak kedua buah hatinya jalan-jalan sore. Dijaga ketat bagai sekantong emas, terkadang memanggil nama atau juga memegang buntut supaya tidak lari. Kepasarpun, sering diajak bagaikan anjing penjaga. Waktu masih kecil, rata-rata, seekor babi sengaja dibutakan matanya sehingga tidak bisa mencuri hasil perkebunan.ibu bercerita bahwa setiap pagi,babi kesayangannya juga disusui , tampak kasih sayang sama besar pada sikaki empat dan anaknya sendiri. Hampir diseluruh dusun, setiap keluarga memiliki binatang emas ini, salah satunya di kampung Susi.

Suasana mulai mencair, ketika seorang Ibu memberikan kita tebu sebagai cemilan sore. Septerinah, anak perempuan yang dipangku manja. Anak bermata besar dengan bulumata panjang terlihat sangat menikmati makan tebu. Kameraku langsung mengarah ke pemberani Septerinah, gila tapi hal yang biasa, si cantik sedang bermain pisau lalu diletakkan di mulut mungilnya. sang ibu menyadarinya, dan langsung mengambil dan memarahai serta tertawa.

dsc_1639Hati riang tertawa senang dirasakan kembali saat bertemu suku Sursurey sedang jalan menuju acara peresmian gereja. Perkenalan dengan kita dilakukan dengan unik, yaitu menari bersama. Pemimpin rombongan mulai berteriak tanda bersiap. Seketika, kegembiraan berada ditengah kita. Perempuan mengenakan pakaian tradisional yang warna warni serta para lelaki membawa parang, senapan, pisau, panah untuk berburu, pun juga ikut bergabng.

Semua ikut menari lewat gandengan tangan dalam setengah lingkaran kecil, serempat bergeser dengan tempo loncat yang sama mari..bersahabat dalam tarian Tumbu tanah. Tarian berupa sorakan pujian pada Tuhan, tanah, udara, mobil, manusia sekaligus doa bagi keselamatan pulang ke kota metropolitan Jakarta.

tak bisa henti berkata ” Abires..!” Berarti terima kasih, pada tiap orang yang kutemui.

Hari ini menjadi special dengan bertemu orang yang special di mataku!

happy day,

Nadine Chandrawinata


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive